Bahasa Puisi dan Tanggung Jawab Penyair
Oleh Edy A Effendi SURAT Sastro Joko Pinurbo (Kompas, 2/6), dalam banyak hal, memberi isyarat cukup signifikan pada dunia penulisan puisi yang selalu terjerat pada lingkaran media massa, percetakan dan penjaga gawang rubrik sastra. Lebih jauh, surat sastra Joko itu, mengingatkan saya bukan hanya pada persoalan salah cetak semata, dan argumentasi “hiburan” Sutardji Calzoum Bachri-sebagai penjaga gawang puisi di lembar Bentara-tetapi kata-kata dan bahasa yang dituang penyair telah menjadi the web of significance, jaringan makna yang seringkali memintal sendiri posisi penyair sebagai bagian yang terpisahkan dari puisi (teks) yang ia tulis.