Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2012

Bahasa Puisi dan Tanggung Jawab Penyair

Oleh Edy A Effendi SURAT Sastro Joko Pinurbo (Kompas, 2/6), dalam banyak hal, memberi isyarat cukup signifikan pada dunia penulisan puisi yang selalu terjerat pada lingkaran media massa, percetakan dan penjaga gawang rubrik sastra. Lebih jauh, surat sastra Joko itu, mengingatkan saya bukan hanya pada persoalan salah cetak semata, dan argumentasi “hiburan” Sutardji Calzoum Bachri-sebagai penjaga gawang puisi di lembar Bentara-tetapi kata-kata dan bahasa yang dituang penyair telah menjadi the web of significance, jaringan makna yang seringkali memintal sendiri posisi penyair sebagai bagian yang terpisahkan dari puisi (teks) yang ia tulis.

Majalah Horison : Neo-Horison dan Politik Jurnalisme Seni

Oleh Edy A Effendi MEMASUKI bulan juli, majalah sastra Horison tampil dengan wajah baru. Kini ia dikawal oleh sepasukan kawasan pers profesional dan dikomandoi sang ‘resi’ dari TEMPO. Siapa lagi kalau bukan Goenawan Mohamad. Di jajaran redaksinya muncul para ‘begawan muda’ seperti Nirwan Dewanto, Taufik Rahzen, Bambang bujono, Sri Malela, dan kerabat Horison yang masih tersisa, Sapardi Djoko Damono.

Angkatan Sastra: Resume yang Menyesatkan

Oleh Edy A Effendi Siapakah yang menghubungkan Shakespeare, Goethe, Dostoyevski dengan angkatan? Mereka besar sendiri-sendiri dan mengangkat sendiri-sendiri derajat sastra dan ke-budayaan dunia serta manusia (Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei II, HB. Jassin) APA yang ingin kita katakan dengan slogan angkatan sastra? Apakah kehadiran sebuah angkatan mampu memberikan stigma bagi perkembangan sastra secara keseluruhan pada masa tertentu? Atau ia hadir sekadar pemoles bibir untuk memandang dan merindukan zaman baru bagi eksistensi kepenyairan seseorang atau sebuah komunitas sastra?

Capaian Asketik Penyair Generasi 90-an

Oleh Edy A Effendi Wajah tanpa wujud Bayang-bayang gaib yang menjelma Di Keremangan. Aku sembahyang Melewati dermaga, perahu-perahu Melewati masa lalu yang jauh Melewati sejumlah tempat dan kesepian PUISI Acep Zamzam Noor di atas, bisa dijadikan satu variabel kecenderungan dominan penyair yang bergerak di sekitar periode 1990-an hingga akhir tahun 2000, yang lebih menyodorkan unsur asketik di antara kerumunan tema-tema sosial yang menghinggapi generasi penyair 90-an.

Kawinnya Bahasa dan Pikiran

Gambar
Oleh Edy A Effendi MEMPERSOALKAN sastra yang bersandar pada peristiwa-peristiwa sejarah selalu menarik untuk dibincangkan. Sastra yang bersandar pada sejarah tak ubahnya mengungkap peristiwa-peristiwa kelam dalam realitas kekinian, yang dikemas dalam dunia fiksi. Seperti kita tahu, alur cerita-cerita fiksi yang bersandar pada persoalan sejarah yang disodorkan ke wilayah publik setidak-tidaknya ikut serta merekonstruksi peristiwa sejarah yang terjadi di ranah publik. Kritikus George Lukacs pernah mensinyalir, sastra sejarah harus mampu menghidupkan masa silam; masa silam harus dekat kepada realitas kita dan kita dapat menyelami kenyataan yang sebenarnya terjadi pada masa silam. Pernyataan George Lukacs mengundang beberapa pertanyaan mendasar dan layak dijawab. Pertanyaan itu merujuk pada klaim, apakah teks-teks sejarah masih menyimpan ruang-ruang kosong, yang memiliki berbagai ragam dimensi kebenaran sehingga bisa dihibahkan dalam teks-teks fiksi? Kenapa hingga kini masih s...

Sajadah Terakhir: Analisis Semiotik Michael Rifaterre

Abstract: The feeling of loneliness to find the turning point in life is the great motivation for noble creatures to meet the Lord. It is started from the awareness toward the hazardous of unsatisfying life which is full of hedonisms. Someone only can get a real satisfaction in his life when God blesses him, when he realizes that God is near. Human should keep struggle to gain such life. Edy A Effendy’s Sajadah Terakhir reflects the hard effort of human being to get close to his Lord. Many symbols which are used in this poem, and it becomes a mystery that should be revealed.

Kisah Sedih Sastra Islam

Oleh Edy A Effendi PADA tahun 1948, sebuah sandiwara radio bertajuk Sinar Memancar dari Jabal An-Nur karya Bahrum Rangkuti digugat oleh publik, karena menyuguhkan adegan Nabi Muhammad menerima wahyu pertama di gua Hira melalui mikrofon. Cerita itu disadur dari The Christmas Carol karangan Charles Dickens dengan mengambil tema Natal, yang kemudian atmosfirnya diubah oleh Bahrum Rangkuti ke dalam lingkungan Islam; semalam sebelum lebaran. Anehnya, ketika cerita tersebut dimuat dalam Majalah Indonesia, Juli 1949, tidak mendapat reaksi dari publik.