Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2012

Sastra Islam di Tengah Krisis Intelektual

Oleh Edy A Effendi ASUMSI-asumsi pembenaran yang digulirkan Simuh dalam tulisan Sastra Islam dan Masa Depan Umat (Republika, 15/2), bahwa sastra sufi lebih mengutamakan rasa pengala­man keagamaan, sehingga langsung memudarkan daya kritik keilmuan dalam Islam. Menurut Simuh, pengaruh tasawuf sejak abad ke-13, hingga kini mengalami kemandulan, dan tidak bisa melahirkan ulama yang bertaraf mujtahid, layak dipersoalkan sebagai agenda perbincangan yang membutuhkan penjelasan-penjelasan secara menyeluruh. Asumsi Simuh dipertegas dengan satu sinyalemen, bahwa akibat memudarnya pemikiran scientific yang kritis itu, sastra banyak terjerumus ke paham yang bertentangan dengan prinsip ajaran Islam yang lurus tanpa disadarinya. Sehingga para sufi cenderung mengadakan renungan-renungan pribadi secara bebas tanpa mencermati al-Qur’an dan Sunnah.

Kritik Sastra: Isu Lama, Kemasan Baru

Gambar
Oleh Edy A Effendi PADA Agustus 1938 di majalah Poejangga Baroe, JE Tatengkeng, penyair terkemuka di awal kesusastraan Indonesia modern, memberitahu kita bahwa yang paling fundamental dalam tradisi kritik sastra adalah pertemuan dan pergumulan antara kritikus dengan apa yang diselidikinya. Hasil dari pergumulan itu adalah kritik sastra yang bersifat subjektif. Sang kritikus tidak berdiri di luar pagar perkara yang ia kupas dan sentuhan-sentuhannya harus terasa “bentuk tangannya, ketokan jantungnya, dan panas darahnya”. Pikiran Tatengkeng di atas, setidak-tidaknya sekadar “pengantar” untuk melihat kembali “silang sengketa” perihal kritik sastra yang dipicu tulisan Binhad Nurrohmat kemudian direspon Budi Darma dan Satmoko Budi Santoso di harian ini. Tiga tulisan yang dikembangkan para pekerja sastra itu, dalam titik-titik tertentu bukanlah persoalan baru, tapi lebih pada penyiasatan isu lama dengan kemasan baru. Masing-masing, seolah-olah memiliki klaim kebenaran sendiri. Meruj...

Sastra 2007 Tanpa Jejak Bahasa

Gambar
Oleh Edy A Effendi PERJALANAN karya sastra Indonesia dalam kurun waktu 2007, tidak mampu meninggalkan jejak sejarah kebahasaan yang cukup berarti bagi tapak pertumbuhan sastra Indonesia. Jejak sejarah kebahasaan ini menjadi penting karena fakta-fakta sejarah yang lurus harus dibangun atas keselarasan antara bahasa dan pikiran. Seperti kata Roger Trigg, Thought without language becomes impossible, and difereent languages will produce different thought . Berpikir tidak mungkin dipisahkan dari bahasa, dan adanya perbedaan bahasa akan melahirkan perbedaan produk pemikiran. Untuk membangun keselarasan antara bahasa dan produk pemikiran, para sastrawan semestinya harus ber-gumul secara intens dengan dunia bahasa dan tidak serta merta melahirkan karya tanpa mau menjenguk ceruk-ceruk kebahasaan yang paling dalam. Hanya beberapa buku sastra yang bisa dijenguk keseriusannya mencari bahasa sebagai jangkar kreativitasnya. Sebutlah kumpulan cerita pendek Gus tf Sakai, Perantau (GPU, Maret, 2...

Kritik Sastra Indonesia dalam ‘Pertikaian Kecil’ Masa Kanak-Kanak

Gambar
Oleh Edy A Effendi PADA Agustus 1938 di majalah Poejangga Baroe, J.E. Tatengkeng, penyair terkemuka di awal kesusastraan Indonesia Modern, memberitahu kita bahwa yang paling fundamental dalam traidis sastra adalah pertemuan dan pergumulan antara kritikus dengan apa yang diselidikinya. Hasil dari pergumulan itu adalah kritik sastra yang bersifat subyektif. Sang kritikus tidak berdiri di luar pagar perkara yang ia kupas, dan sentuhan-sentuhannya harus terasa “bentuk tangannya, ketokan jantungnya dan panas darahnya.” Pikiran-pikiran Tatengkeng itu, meskipun telah melewati masa lima puluh sembilan tahun, bau dan aroma napasnya masih sangat terasa pada tulisan Agus R. Sardjono dan Tommy F. Awuy, yang ikut meramaikan “pertikaian kecil” di rubrik budaya Republika, yang oleh seorang kawan dianggap menggunakan metode tafsir terhadap persoalan sastra tapi tidak dilengkapi piranti-piranti konseptual yang serba argumentatif dan koheren. Mereka tidak “bermain” dalam wilayah gagasan sebaga...