Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2014

Tangisan Erendira

Gambar
di jalan Aracataca*, matamu kuyu meski debu masih menyisakan tangisanmu beri kabar tentang laut yang diam dan langit yang tak lagi menyimpan hujan

KEMATIAN AYAH

Gambar
-- mengenang almarhum ayahku 21 Januari 1998, saat beduk Isa tiba, ayahku terbaring di kamar tidur. Lampu padam. Atap kamar menangis, mega runtuh melepaskan bebannya ke sudu tembok yang kusam. Air hujan ngalir ke penjuru kamar. Ibuku mengaji berkali-kali, sambil mengusap air mata yang jatuh satu per satu di ujung sajadah. Ia basah kuyup; dari tubuhnya mengalir deras air mata yang tersimpan 300 tahun lalu. Di antara kegelapan dan rintik hujan itu, ayahku memasuki atap-atap langit. Bersama Nietzsche, aku bawa usungan jenazah ayah melewati alun-alun kota. Sambil membakar poster-poster tuhan yang berserakan di pinggiran jalan. Orang-orang ramai mengusung jenazah tubuhnya sendiri, memasuki laut yang tak lagi dipenuhi gelombang. Di antara rintik hujan, aku tanam jenazah ayah di dalam masjid. Masjid dan gereja hanyalah makam-makam dan nisan-nisan bagi tuhan. Aku ingin ayah menari dan membaca bersama tuhan di atas mimbar; mengenang arwah Coleridge, penyair romantik itu, sambil mem...

Politik Balas Dendam Arief - Sachrudin

Gambar
Oleh Edy A Effendi Komunikasi politik dalam lajur kehidupan era pemilihan langsung, begitu urgen bagi setiap pribadi yang terlibat di dalam gemuruh aura demokrasi. Seolah-olah setiap orang mendadak jadi komunikator-komunikator yang piawai untuk merebut hati warga

Arief dan Kearifan Lokal

Gambar
Oleh Edy A Effendi Membangun infrastruktur kota, sudah sepatutnya berpijak pada nilai-nilai keadaban. Nilai-nilai keadaban itu bertumpu pada entitas lokal yang tumbuh dan berkembang dalam relung-relung masyarakat kota itu sendiri. Dan semua itu harus bersandar pada kearifan lokal.