Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2019

Tafsir Sastra dan Tindakan Reproduktif

Gambar
Oleh Edy A Effendi KERJA penafsiran dalam dunia sastra, dalam batas-batas tertentu, memaksa kita untuk mematuhi peranti-peranti konseptual yang serba argumentatif dan koheran. Satu peranti konseptual yang disandarkan pada kerangka kerja ilmiah yang dibangun atas teori-teori, menghendaki adanya upaya kerja penafsiran teks tidak bersifat reproduktif (kembali kepada maksud pengarangnya), melainkan bersifat produktif melalui pembauran wawasan, ketika pembaca mencermati dan membongkar arti sebuah teks. Pada titik ini, teks mengalami proses pemaknaan dan interpretasi yang menyebar ke segala arah. Kerja penafsiran di atas, setidak-tidaknya mengikuti jejak pikiran yang pernah dikembangkan Paul Ricoeur, yang kerap diapungkan oleh banyak penulis, ketika berhadapan dengan karya sastra. Pendekatan teori teks Paul Ricoeur tampaknya ingin memperlihatkan satu kerangka teori teks ketika berhadapan dengan sebuah karya wacana. Teks adalah karya wacana yang dimantapkan. Dan, sebuah karya w...

Penggemparan dalam Dunia Tafsir Sastra

Gambar
KETIIKA sebuah tafsir digulirkan, maka keutuhan sebuah karya tercemarkan oleh faktor subjektif dari sang penafsir. Dari sinilah kemudian, sebuah tafsir seharusnya mematuhi perangkat-perangkat konseptual yang serba argu¬mentatif dan koheren, agar orisinalitas karya tetap terja¬ga. Akan tetapi, seringkali tafsir sastra memasuki ruang-ruang subjektif pengarang di luar wilayah karya, sehingga tafsir tidak lagi berada dalam kerangka objektif. Tengok saja ketika Daniel Dhakidae mengupas novel Para Priyayi karya Umar Kayam.Daniel Dhakidae membongkar karya tapi melakukan pembo¬coran biografi. Dari sinilah kemudian tafsir sastra menga¬lami distorsi: sebuah penggemparan tafsir, yang lebih memprioritaskan pada data-data pribadi. Di sisi lain, persoalan tafsir sastra seringkali melakukan imperialisasi wacana. Imperialisasi wacana adalah salah satu bentuk penjajahan terhadap karya dengan pendekatan beragam teori, sehingga hakikat dari sebuah tafsir yang membedah "urat nadi" ...

Kisah Sedih Sastra Islam

Gambar
PADA tahun 1948, sebuah sandiwara radio bertajuk Sinar Memancar dari Jabal An-Nur karya Bahrum Rangkuti digugat oleh publik, karena menyuguhkan adegan Nabi Muhammad menerima wahyu pertama di gua Hira melalui mikrofon. Cerita itu disadur dari The Christmas Carol karangan Charles Dickens dengan mengambil tema Natal, yang kemudian atmosfirnya diubah oleh Bahrum Rangkuti ke dalam lingkungan Islam; semalam sebelum lebaran. Anehnya, ketika cerita tersebut dimuat dalam Majalah Indonesia, Juli 1949, tidak mendapat reaksi dari publik. Memasuki tahun 1968, pada bulan Agustus, Majalah Sastra memuat cerita pendek Langit Makin Mendung karya Ki Panjikusmin, dan mendapat reaksi sangat keras dari masyarakat pembaca, karena cerita tersebut memperlakukan Nabi dengan pernyataan-pernyataan yang amat kasar dan dianggap menghina Islam. Dua kasus di atas memberi satu bukti bahwa transformasi ide melalui dunia sastra tidak bisa dibebaskan dari masyarakat pembaca yang me...

Angkatan Sastra: Resume yang Menyesatkan

Gambar
Siapakah yang menghubungkan Shakespeare, Goethe, Dostoyevski dengan angkatan? Mereka besar sendiri-sendiri dan mengangkat sendiri-sendiri derajat sastra dan ke-budayaan dunia serta manusia (Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei II, HB. Jassin) APA yang ingin kita katakan dengan slogan angkatan sastra? Apakah kehadiran sebuah angkatan mampu memberikan stigma bagi perkembangan sastra secara keseluruhan pada masa tertentu? Atau ia hadir sekadar pemoles bibir untuk memandang dan merin-dukan zaman baru bagi eksistensi kepenyairan sese-orang atau sebuah komunitas sastra? Rangkaian pertanyaan tersebut, layak untuk diajukan ketika kita dihadapkan pada hakikat sastra sebagai sumber kreativitas. Dan bukan ladang memperebutkan “kursi” angkatan untuk mentasbihkan diri masuk dalam komunits penyair pada zaman tertentu. Rangkaian pertanyaan di atas, mempertimbangkan pada satu hal bahwa angkatan sastra selalu mengabdi pada isme, gaya, kecenderungan-kecend...