Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2019

Baginda Nabi Tak Meninggalkan Warisan Harta

Gambar
Sebagian besar orang melihat kekayaan hanya dari sisi lahir, materi. Orang yang punya mobil langsung dicap lebih kaya ketimbang orang yang punya motor. Orang yang punya rumah dianggap lebih kaya ketimbang orang yang masih tinggal di kontrakan. Inilah ukuran kekayaan secara materi. Inilah ukuran kekayaan secara materi. Saya teringat wejangan Imam Ghazali dalam risalahnya "Al-Adabu fid Din", khususnya pasal "Adabul Ghani". Kata Imam Al-Ghazali orang kaya itu harus selalu bersikap tawadu' (luzumut tawadlu') dan menghapus sikap sombong (nafyut takabbur). Di tepi lain Imam Ghazali mengurai bahwa aktivitas ekonomi manusia itu harus disandarkan pada aktivitas menuju hari akhir dan hari pembalasan. Artinya setiap gerak dalam mencari kekayaan itu harus berpijak pada pertanggung jawaban pada hari akhir, hari pembalasan. Lebih jauh Imam Ghazali melihat sebuah kekayaan adalah pencapaian menuju kesuksesan hidup yang abadi. Kekayaan dalam filosofi hidup haru...

Fanatisme dan Keseragaman dalam Puisi

Gambar
Oleh Edy A Effendi NIRWAN Dewanto, seorang esais, dalam diskusi terbatas, di Warung Tenda Biru, Jalan Braga, Bandung, melihat ada gejala dalam proses penciptaan puisi dalam dasawarsa terakhir, yang ditandai semangat fanatisme dan keseragaman di sebagian penyair Indonesia. Tampaknya, lemparan pikiran Nirwan perihal sikap fanatisme itu, lahir dari semangat untuk memperkukuh proses penciptaan yang bersandar dari wilayah geografis semata, dan “penuhanan” terhadap “sosok guru” --figur yang dituakan-- hingga napas kesadaran yang diemban, cenderung dibingkai oleh konvensi-konvensi lama dalam hal penulisan puisi, terutama dalam pemilihan kata dan gaya yang ditularkan dalam teks puisi. Semangat semacam inilah, yang kemudian, memberikan stigma keseragaman dalam puisi-puisi yang diciptakan sebagian penyair. Dan pada akhirnya, puisi yang tercipta, hanya bersandar pada kemampuan memainkan irama kata, dan teknik penulisan yang “dicanggihkan”. Gejala fanatisme dan keseragaman, salah satuny...

Puisi Indonesia: Sembunyi dalam Gelap

Gambar
. Puisi yang penuh dengan metafor gelap, kalimat panjang yang hampir-hampir tak terpahami dan tema-tema subjektif yang asal terlontar saja dari penyairnya, telah menyebabkan puisi Indonesia pada suatu masa tersisih, menjadi semacam benda-benda asing yang tak mempunyai peranan sama sekali dalam kehidupan bersama. Puisi Indonesia modern itu adalah contoh tragis dari kesenian kita yang belum lagi matang, sebab dengan segala kerumitannya ia telah menolak dirinya sebagai puisi. Puisi telah hampir ditolak, tetapi puisi modern itu justru telah mengarahkan kematiannya sendiri. Pernyataan Sutisna Adji ini, yang dimuat dalam buku  Tentang Kritik Sastra Sebuah Diskusi  (Editor Lukman Ali, 1978), terutama diarahkan kepada puisi-puisi Ajip Rosidi yang termaktub dalam kumpulan  Pesta  bersama Wiratmo Sukito dan Iwan Simatupang, yang beredar sekitar tahun 1955-an Seperti kita tahu, pada kurun tahun 1950-an, konstelasi politik di ranah Indonesia tercabik-cabik o...

Puisi Indonesia: Sembunyi dalam Gelap

Sastra Islam dalam Bingkai Bahasa Agama

Gambar
Oleh Edy A Effendi KEHADIRAN karya sastra yang bernafaskan Islam dalam arus kesusastraan Indonesia modern, seringkali hanya menjadi “pelengkap penderita” dalam konstelasi kehidupan sastra Indonesia. Padahal, kehadiran teks sastra bernafaskan Islam, merupakan bagian terpenting untuk memahami hubungan kausalitas antara seni Islam dan spiritualitas Islam. Hubungan kausalitas seni Islam dan spiritualitas Islam itu, menurut Titus Burckhardt, karena seni Islam diilhami oleh spiitualitas Islam secara langsung, sedangkan wujudnya dibentuk oleh karakteristik tertentu dari tempat penerima wahyu al-Quran, yaitu dunia Semit dan nomadis yang nilai-nilai positifnya diuniversalkan Islam . Kondisi semacam ini, yakni terciptanya kajian teks sastra berdasarkan hubungan kausalitas antara seni Islam dan spiritualitas Islam, didukung oleh mutan-muatan firman Tuhan yang diwujudkan dalam format kitab suci. Kitab suci sebagai sebuah teks menawarkan berbagai ragam bahasa, yang seringkali di-sandarkan pad...

Horison, Kebudayaan dan Tangan Dingin Goenawan Mohamad: Sebuah Refleksi

Gambar
Oleh Edy A Effendi HARI INI (10/7) edisi perdana Majalah Sastra dan Seni, Horison baru di tangan dingin Goenawan Mohamad diterbitkan. Sodoran pikiran yang digelindingkan Nirwan Dewanto, salah seorang redakturnya, perihal lahirnya kembali majalah sastra dan seni Horison baru itu, menarik untuk dibincangkan sebagai menu primer dalam agenda makanan pikiran kita. Nirwan, penyair dan eseis muda yang genial, membuka lembaran Horison baru dengan merekonstruksi perjalanan selama 27 tahun majalah sastra tersebut, sekaligus membangun satu piramida dalam bingkai kesenian Indonesia. Ia menyuguhkan pikiran kritis dan segar, bahwa kita membutuhkan sikap trans-kultur, dan bukan sejenis kebanggan nasional. Setidak-tidaknya demikianlah cara untuk belajar dari ‘kekeliruan’ dalam sejarah kesenian kita di abad-20; keinginan yang terlalu besar untuk jadi ‘modern’, malah memencilkan kita dari arus-arus baru pemikiran dan penciptaan di seluruh dunia. Tesis yang digulirkan Nirwana Dewanto, dalam batas-ba...

Paralogi: Satu Residu yang Tersisa

Gambar
Oleh Edy A Effendi Kenyataan sastra hari ini, mau tak mau, harus dilihat dan dipandang dalam prinsip-prinsip paralogi. Satu prinsip atau kaidah yang mendedahkan keberagaman realitas, unsur-unsur, dan ruang permainan dengan logikanya masing-masing, tanpa harus saling menindas atau mengerangkeng satu dengan yang lain . Para cerdik pandai melihat realitas ini, ibarat permainan catur. Setiap bidak memiliki rule of game dan kehendak sendiri tanpa harus saling menindas bidak-bidak lain. Dalam paralogi, imajinasi merupakan kekuatan atau daya yang penting. Paralogi tidak dibangun atas dasar kesepakatan melalui proses yang berkesinambungan dengan aturan main yang ada, melainkan melalui apa yang disebut Jean Francois Lyotard sebagai dissensus yang tidak selalu berkesinambungan. Paralogi juga tidak dibangun sepenuhnya atas penemuan-penemuan baru, melainkan berupa kemampuan menggunakan apa yang sudah ada, sudah tersedia dengan cara-cara baru. Tentu saja, niatan melihat dan memandang sast...

Ruang Pertunjukan, Dunia Simulasi Kenyataan

Gambar
Oleh Edy A Effendi Ruang pertunjukkan selalu berusaha bersandar pada realitas. Bersandar pada kenyataan-kenyataan yang terjadi di sekitar kita.  Dan kenyataan-kenyataan itu, selalu menjebak, mengkerangkeng  dengan berbagai gugusan ide yang bertebaran.  Gugusan ide yang berkeliaran dalam ruang pertunjukkan, hakikatnya penjabaran dari dunia simulasi kenyataan. Gugusan ide itu, mau tak mau,  mengandaikan tarik menarik proses objektivikasi antara ruang pertunjukkan, para pelaku seni, kreator  dengan kenyataan yang terjadi di luar pertunjukkan.  Dan sebuah ruang pertunjukkan,  ditakdirkan untuk mentakbirkan berbagai ragam isu, gagasan dan berbagai pernik hidup yang berkeliaran di ranah publik. Dan gugusan ide itu, sering dijadikan alat ukur “bobot  kehadiran” sebuah seni pertunjukan. Persoalannya yang timbul , apakah  perluasan “bobot kehadiran” seni pertunjukan, bentuk representasi dari keberhasilan sebuah seni pertunjukkan?...