Kritik Sastra: Isu Lama, Kemasan Baru
Oleh Edy A Effendi PADA Agustus 1938 di majalah Poejangga Baroe, JE Tatengkeng, penyair terkemuka di awal kesusastraan Indonesia modern, memberitahu kita bahwa yang paling fundamental dalam tradisi kritik sastra adalah pertemuan dan pergumulan antara kritikus dengan apa yang diselidikinya. Hasil dari pergumulan itu adalah kritik sastra yang bersifat subyektif. Sang kritikus tidak berdiri di luar pagar perkara yang ia kupas dan sentuhan-sentuhannya harus terasa “bentuk tangannya, ketokan jantungnya, dan panas darahnya”. Pikiran Tatengkeng di atas, setidak-tidaknya sekadar “pengantar” untuk melihat kembali “silang sengketa” perihal kritik sastra yang dipicu tulisan Binhad Nurrohmat kemudian direspon Budi Darma dan Satmoko Budi Santoso di harian ini. Tiga tulisan yang dikembangkan para pekerja sastra itu, dalam titik-titik tertentu bukanlah persoalan baru, tapi lebih pada penyiasatan isu lama dengan kemasan baru.Masing-masing, seolah-olah memiliki klaim kebenaran sendiri....