Postingan

Ide, Tubuh Puisi dan Posisi Kritikus

Gambar
 Oleh Edy A Effendi Diskusi buku puisi Daging Akar karya Gus tf di QB World Books, Kemang, Jakarta, pekan silam, menyisakan seperangkat isu sastra yang harus diungkap lebih dalam. Seperangkat isu sastra itu berpijak pada persoalan; apakah puisi harus didekati dan digumuli melalui ide-ide besar di luar tubuh puisi dengan pendekatan filsafat dan berbagai teori-teori besar, yang tidak memiliki signifikansi dengan persoalan tubuh puisi. Puisi dalam kerangka pendekatan seperti ini kemudian direkayasa, dikunyah, dan dicari padanannya dengan ide-ide besar di luar konteks puisi. Mencari ide dalam puisi inilah yang dikritik pegiat sastra Nirwan Dewanto ketika mendengar paparan Nirwan Ahmad Arsuka perihal puisi-puisi Gus tf. Arsuka mencoba melihat bahwa puisi-puisi Gus tf lebih ke arah metafisis atau lebih tepatnya banyak mitos yang tersembunyi dalam kumpulan Daging Akar. Dengan demikian, 38 puisi yang ada dalam kumpulan tersebut adalah rentetan gagasan lapuk, yang hanya mengulang...

Bercerminlah Secara Rohani

Gambar
Oleh Edy A Effendi Cermin. Barang sepele tapi kenapa bisa mengatur diri kita. Cermin bisa membuat orang pede. Bisa ‘bikin’ orang ragu. Bisa membuat orang malu dan bisa membuat orang bercermin tentang riwayat hidup yang bersemayam dalam diri. Itulah cermin, cerita mini

Tangisan Erendira

Gambar
di jalan Aracataca*, matamu kuyu meski debu masih menyisakan tangisanmu beri kabar tentang laut yang diam dan langit yang tak lagi menyimpan hujan

KEMATIAN AYAH

Gambar
-- mengenang almarhum ayahku 21 Januari 1998, saat beduk Isa tiba, ayahku terbaring di kamar tidur. Lampu padam. Atap kamar menangis, mega runtuh melepaskan bebannya ke sudu tembok yang kusam. Air hujan ngalir ke penjuru kamar. Ibuku mengaji berkali-kali, sambil mengusap air mata yang jatuh satu per satu di ujung sajadah. Ia basah kuyup; dari tubuhnya mengalir deras air mata yang tersimpan 300 tahun lalu. Di antara kegelapan dan rintik hujan itu, ayahku memasuki atap-atap langit. Bersama Nietzsche, aku bawa usungan jenazah ayah melewati alun-alun kota. Sambil membakar poster-poster tuhan yang berserakan di pinggiran jalan. Orang-orang ramai mengusung jenazah tubuhnya sendiri, memasuki laut yang tak lagi dipenuhi gelombang. Di antara rintik hujan, aku tanam jenazah ayah di dalam masjid. Masjid dan gereja hanyalah makam-makam dan nisan-nisan bagi tuhan. Aku ingin ayah menari dan membaca bersama tuhan di atas mimbar; mengenang arwah Coleridge, penyair romantik itu, sambil mem...

Politik Balas Dendam Arief - Sachrudin

Gambar
Oleh Edy A Effendi Komunikasi politik dalam lajur kehidupan era pemilihan langsung, begitu urgen bagi setiap pribadi yang terlibat di dalam gemuruh aura demokrasi. Seolah-olah setiap orang mendadak jadi komunikator-komunikator yang piawai untuk merebut hati warga

Arief dan Kearifan Lokal

Gambar
Oleh Edy A Effendi Membangun infrastruktur kota, sudah sepatutnya berpijak pada nilai-nilai keadaban. Nilai-nilai keadaban itu bertumpu pada entitas lokal yang tumbuh dan berkembang dalam relung-relung masyarakat kota itu sendiri. Dan semua itu harus bersandar pada kearifan lokal.

Dongeng Rumah Kebangsaan

Gambar
29 Oktober malam di Teater Kecil, TIM, Cikini, Jakarta, sejumlah cerdik pandai memaklumatkan satu gerakan: Rumah Kebangsaan, Gerakan Indonesia Memilih. Sebuah niat luhur, yang layak diapresiasi. Niat luhur itu terpampang dari keinginan para cerdik pandai itu, memillih pemimpin ideal masa depan, yang bisa menjaga gawang Indonesia. Inilah dongeng kaum cerdik pandai. Dongeng karena mencari pemimpin ideal tak serta merta ditelisik dari satu gerakan permanen seperti Rumah Kebangsaan. Seorang pemimpin lahir dan tumbuh tanpa ada rekayasa. Ia diamini kata-katanya dan laku hidupnya tanpa rekayasa. Lahir dan tumbuh secara alami. Kaum cerdik pandai yang dipelopori Komaruddin Hidayat ini, sepertinya frustasi dengan karut marut persoalan yang melilit Indonesia. Persoalan pengkaderan yang buruk di tubuh partai. Partai politik hanya jadi lumbung menanam benih kekuasaan tanpa mau menjenguk bagaimana seorang pemimpin dibentuk. Partai politik selalu saja bertimbang, pada kepentingan partai, pa...